Tentang Cinta (Mahabbah) dalam Ilmu Tasawuf


Sedang ngetrend berbicara masalah Bucin. Bucin merupakan kependekan dari budak cinta. Sebuah istilah yang sedang banyak dibahas oleh kawula muda. Sebutan untuk mereka yang rela melakukan apa untuk mereka yang disayangi, dicintai.

Wajar dan tidak heran, coba kita tengok orang di sekeliling kita, atau bahkan diri kita yang pernah jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta rela melakukan apa saja demi yang dicintainya agar bahagia. Bahkan melakukan hal yang diluar kemampuan. Dan tidak habis pikir mampu melakukan nya.

Tentang Cinta (Mahabbah) dalam Ilmu Tasawuf


Itulah sebuah keanehan cinta, perasaan yang mampu merubah segalanya. Mampu merubah cuka jadi manis, mampu mendekatkan yang jauh. Istilah budak cinta sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghozali bahwa

من احب شيئا فهو عبده

yang artinya kurang lebih 'siapa yang mencintai sesuatu maka dialah hamba dari sesuatu itu'


Sungguh hebat kekuatan cinta itu. Merubah yang tidak logis menjadi logis. Apa saja yang dilakukan oleh yang dicintai akan selalu bernilai benar walaupun pada kenyataannya salah. Apabila cinta dunia maka orang yang cinta ini akan siang malam memikirkan untuk memiliki dunia. Sebaliknya jika cinta surga dan cinta Allah maka siang malam pula untuk bisa mendapatkan surga dan bertemu Allah.

Analogi cinta kepada sesama makhluk jika dirubah kepada cinta Allah akan menjadi hal yang luar biasa. Rela berdzikir siang malam agar semakin dekat dengan Sang Khaliq, ikhlas beribadah kepada Allah agar semakin cinta Allah.


Apabila seseorang mencintai sesuatu maka ada 3 tanda yang harus diperhatikan yakni :
  1. 'Man ahabba syai’an ahabba Dzikrohu' yang artinya 'Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia senang untuk mengingat-ingatnya'.
  2. 'Man ahabba syai’an ahabba liqooahu' yang artinya 'Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia senang untuk menemuinya'.
  3. 'Man ahabba syai’an ahabba ma’ahu' yang artinya 'Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia senang untuk bersamanya'.


Dan Mahabbah (kecintaan) itu memiliki tingkatan-tingkatan.
  1. Seorang manusia dicintai karena memiliki kelebihan
  2. Seseorang mencintai sesuatu karena untuk mendapatkan cinta dari yang lainnya
  3. Sesuatu yang dicintai bukan karena dirinya, tetapi untuk hal lain yang bukan untuk kebaikan dunia ini tetapi untuk kebaikan dunia berikutnya.
  4. Cinta karena Allah. Ini adalah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri dan tidak berkepentingan.

Puncak ibadah adalah cinta, seperti yang dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin, pada juz 4 bahwa inti dari semua ibadah adalah cinta Allah, menjadi kekasih-Nya

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Karachi: Darul-Ishaat, 1993)

Wallahu A'lam Bi Showab

x